Hasil Quick Count Pilkada 

Pilkada Sulut 2015 Provinsi Sulawesi Utara

Pilkada Serentak Sulut - Sulawesi Utara 2015Pengamat Politik Sulut Ferry Liando memprediksi praktek politik uang akan menghebat pada pilkada tahun ini. Aturan PKPU mengenai Pilkada satu putaran akan membuat calon mencari jalan untuk menang dengan cara yang cepat serta instan. "Pasti banyak yang pakai uang untuk memikat massa," katanya.

Menurut Liando, masyarakat sulut sangat pragmatis dalam menjatuhkan pilihan. Dalam kondisi demikian, para calon pasti memakai cara yang pragmatis seperti bagi - bagi uang. Hanya memakai kekuatan visi dan misi ibarat bunuh diri. "Masyarakat sulut seperti itu, tapi itulah realita," kata dia.

Mengenai sedikitnya kontestan dalam pilkada kali ini, ujar Liando, salah satu penyebabnya adalah banyak calon tak punya cukup kekuatan modal. "Selain ada hal politis, banyak calon takut bertarung karena tak punya uang, padahal mereka punya gagasan brilian, sudah rahasia umum jika calon harus bayar mahar ke parpol," kata dia.

Ke depan, kata Ferry, perlu upaya terstruktur untuk membasmi politik uang. Cara terefektif, menurut dia, adalah dengan membatasi sumbangan perusahaan atau pribadi ke calon. Tiga mantan narapidana (napi) korupsi tercatat ikut dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2015 di Sulawesi Utara (Sulut). Menariknya, meski berstatus bekas napi, masyarakat menengah ke bawah justru terasa masih merindukan sosok ketiganya.

Pengamat Politik dan Kemasyarakatan Sulut Taufik Tumbelaka menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang membuat masyarakat menengah ke bawah masih mendukung para mantan napi tersebut. "Faktor pertama adalah anggapan masyarakat bahwa jika sudah menjalani masa hukuman secara tuntas, maka yang bersangkutan sudah bersih dan bisa dipercaya kembali," ujar Tumbelaka, Kamis (8/6/2015).

Faktor kedua adalah anggapan masyarakat bahwa mereka yang tersangkut kasus korupsi itu, hanya karena kebetulan saja. Sebab sebenarnya masih banyak yang juga bermasalah tetapi belum tersentuh oleh aparat penegak hukum. "Dan faktor ketiga adalah bahwa secara personality ketiga sosok mantan napi yang ikut mendaftar sebagai calon kepala daerah itu dianggap memiliki kepribadian yang baik. Dan masyarakat menganggap bahwa kasus pidana yang menjerat mereka bukan seratus persen kesalahan mereka," papar Tumbelaka.

Ketiga mantan napi korupsi itu adalah Elly Engelbert Lasut yang didukung oleh Partai Golkar, PAN, PKS, PKPI dan Hanura mendaftar sebagai calon Gubernur Sulut. Sementara Jimmy Rimba Rogi yang diusung Partai Golkar, PAN dan PPP mendaftar sebagai calon Wali Kota Manado. Di Minahasa Utara, Vonny Anneke Panambunan yang diusung Partai Gerindra, PKPI dan PKB juga mendaftar sebagai calon Bupati.